Aku berpagut menunggu kehadiran senja
tapi fajar tiba lebih dulu menemuiku
katanya senja akan datang terlambat
ah ! dia selalu saja datang terlambat
dia mulai membuatku kesal dan hilang kesabaran
lalu aku berpaling pada mentari yang tampak malu - malu
aku berteriak padanya dengan gahar
bisakah kau muncul lebih cepat?!
jangan terlihat malu - malu seperti itu !
tingkahmu membuatku muak setengah mati !
ayo naik,cepat selesaikan tugasmu lalu segera pulang !
aku merindukan senja...
mentari hanya tersenyum kepada amarahku
dia mulai bersuara..suara yang mengalun dengan teduh
mengapa kau marah padaku?
padahal Rajaku saja tak pernah sekalipun berteriak padaku
kamu bukan siapa - siapa, mengapa bersikap seolah - olah kamu Tuanku?
redupkan angkuhmu, kau kecil sementara Rajaku besar
silahkan minta Rajaku untuk segera mendatangkan senja
tapi kau akan melenyapkan kebahagian orang - orang yang sedang merindukan fajar
kau benar - benar egois, nona !
aku tercekat..
Siapa Rajanya?
Siapa Tuannya?
Sungguh Maha Tahta, bahkan fajar dan senja tunduk padanya
aku tersudut dibalik pepohonan kering
merasa sangat kecil dengan angkuh dan pongahku
diam...bungkam...hanya menunggu senja datang...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar