Senin, 31 Desember 2012

Senja Musim Hujan di Malang ( END )


Aku membuka pintu rumah dan melihat Rayen sudah menunggu di depan pagar. Tepat jam empat sore. Tshirt dengan kerah berwarna cokelat muda dipadukan dengan celana jeans berwarna gelap nampak pas sekali ditubuhnya. Meskipun tidak setinggi atlet basket yang banyak digilai oleh remaja – remaja perempuan seusiaku, kuakui Rayen memang keren dengan tampangnya yang cool. Sedangkan aku mengenakan rok bermotif pelangi dengan kaos berwarna hitam.
“Hai, sudah lama nunggu?”, sapaku setelah menggembok pagar.
“belum lama kok. Lagian lebih baik aku yang nunggu daripada aku ngebiarin kamu yang nunggu aku. Ya, kan?” Aku hanya tersenyum dan langsung naik ke atas motornya.
Pemandangan yang benar – benar menakjubkan. Setelah melewati alun – alun Batu yang cukup ramai dikunjungi, kami mulai melewati jalan yang terus menanjak. Di kanan dan kiri kami hanya ada pepohonan dan hamparan pegunungan hijau. Aku membuka helmku dan menghirup napas dalam – dalam. Merentangkan kedua tanganku dan yang membuat semakin menakjubkan adalah aku bisa melihat Kota Malang dari atas sini. Pesona alam yang benar – benar mendamaikan hati. Aku cinta tempat ini, kota ini, dan..aku cinta seseorang yang membawaku kesini. Ya, aku jatuh cinta kepada Rayen sejak kami jalan berdua pertama kali. Aku tidak bisa terus mengelak dari perasaan yang semakin hari semakin menyesakkan. Aku jatuh cinta padanya. Tapi aku belum siap menerima kenyataan jika kenyataannya Rayen hanya menganggapku sebagai teman dekatnya, tidak lebih dari itu.
Selama kurang lebih setengah jam perjalanan, kami memasuki tempat wisata Selecta. Aku belum pernah kesini sebelumnya. Tapi aku sudah mendengar cerita tentang tempat ini sebelumnya. Teman – temanku selalu mendeskripsikan tempat ini sebagai tempat yang indah dan romantis. Setelah membeli tiket masuk dan memarkir motornya, Rayen membimbingku masuk ke tempat wisata itu.
“Kamu pernah kesini sebelumnya?”, tanya Rayen membuka percakapan.
“Belum. Tapi sudah banyak dengar cerita tentang tempat ini. Katanya sih romantis.”, aku menjawab sambil nyengir.
Aku melihat senyum Rayen mengembang. “Iya, ini memang tempat yang romantis. Coba deh kamu lihat itu.”, Rayen menunjuk suatu tempat yang penuh hamparan bunga warna – warni. Aku tercekat. Aku sangat suka bunga. Dan sekarang, lagi – lagi dia membawaku ke tempat yang bisa kusebut sebagai lautan bunga. Hatiku melumer, luluh bukan main. Rayen benar – benar menyita seluruh hatiku tanpa sisa dengan caranya.
“Gila ! tempat ini bagus banget !”, Aku setengah berteriak takjub.
“Nah, kalau mau yang lebih bagus ayo aku tunjukkan sama kamu.” Rayen menggapai telapak tanganku lalu menarikku untuk mengikutinya. Aku sempat kaget saat ia meraih tanganku. Kami saling bergenggaman tangan. Jantungku mulai berdebar – debar diluar kendali. Tubuhku sedikit gemetar karenanya. Lalu cepat – cepat aku mengontrol sikapku agar tidak terlihat grogi didekat Rayen.
Kami harus menaiki beberapa anak tangga yang terbuat dari bebatuan alam yang sengaja disusun agar pengunjung bisa naik ke jalan setapak yang lebih tinggi. Rayen membantuku naik ke atas, tetap menggenggam tanganku. Kami terus berjalan menyusuri sebuah lorong kecil yang diatas dan disampingnya ditumbuhi tanaman merambat menyelimuti lorong itu. Ada beberapa bunga yang tumbuh dan mekar diatasnya. Aku mengamati setiap bunga yang mekar, dan tetap merasakan hangat telapak tangan Rayen yang sedang menggandengku. Dengan sedikit keberanian aku menoleh ke arah Rayen yang berjalan disampingku. Sial, dia menatapku. Tatapannya yang teduh itu membuatku lemas. Lalu aku melirik ke tangan kami yang saling menggenggam. Tapi seakan bisa membaca pikiranku, Rayen bukannya melepaskan tanganku, tapi malah semakin menggenggamnya erat – erat. Aku melihatnya dengan tatapan tak percaya. Rayen tersenyum penuh arti kemudian mengalihkan pandangannya dariku. Begitu juga dengan aku yang langsung berpura – pura melihat – lihat yang ada disekitar kami.
Aku tak percaya dengan apa yang sedang kulihat. Begitu keluar dari lorong tadi, ada tempat yang mirip dengan balkon yang dipagari dengan kayu dari pohon jati sebagai pembatas, karena dibawahnya ada semacam tebing yang cukup curam. Dan dikedua sisinya ditumbuhi dengan pepohonan rindang. Sementara itu didepannya terpampang bagaikan sebuah lukisan alam yang indah, pegunungan hijau yang puncaknya terbalut kabut tipis, dan bisa kulihat sungai – sungai kecil yang mengalir. Di bawah sana ada hamparan sawah dan beberapa kebun bunga dan buah milik warga lokal. Kami berdua berdiri di balkon itu, berpegangan pada kayu pembatas sambil memandang jauh ke depan. Untuk beberapa saat tidak ada dari kami yang angkat bicara. Lalu aku punya inisiatif untuk membuka percakapan.
“Aku baru pertama kali datang ke tempat seindah ini. Makasih ya.”, Aku melihat Rayen sambil tersenyum.
“Iya, sama – sama. Dulu aku pernah janji sama diriku sendiri buat datang ke tempat ini sama seseorang.”, Kemudian Rayen terdiam. Aku menunggu Rayen melanjutkan kata – katanya. Tapi beberapa lama kemudian dia masih belum berkata apa – apa.
“Seseorang? Siapa?”, tanyaku lagi memecah keheningan diantara kami.
“Dulu waktu pertama kali masuk bangku kuliah, aku suka sama seorang cewek. Dia cantik, pintar, dan baik. Senyumnya juga manis, buat aku gak bisa berpaling kalau llihat dia lagi senyum. Aku kagum sama dia. Mungkin juga aku sudah jatuh cinta sama dia sejak pertama kali aku lihat dia. Tapi sayangnya waktu itu dia sudah punya pacar, Dy.” Rayen bercerita panjang lebar. Hatiku sedikit sakit mendengar ceritanya. Ternyata Rayen sudah punya seseorang di dalam hatinya. Jadi selama ini aku terlalu salah mengartikan sikap Rayen yang penuh perhatian padaku. Dia hanya ingin menjadikanku sebagai sahabatnya. Lalu aku memegang lengan Rayen, berusaha menguatkan dia meskipun hatiku sendiri sedang perih.
“Sabar ya, Ray.” Kataku dengan nada tulus.
“tapi sekarang aku udah nepatin janji aku kok, Dy. Aku udah bawa seseorang itu kesini. Sekarang dia udah ada disamping aku.”
“Apa? Maksud kamu?”, Aku masih bingung dengan kata – katanya. Aku mengangkat sebelah alisku untuk meminta penjelasan.
“Harusnya kamu sudah tahu kalau cewek yang selama ini aku sayang itu cuma kamu, Dy. Aku sayang sama kamu. Aku ga bisa lagi menyembunyikan perasaan ini dari kamu. Sudah terlalu lama dan aku cuma bisa nahan sakit waktu lihat kamu sama pacar kamu.”
“Aku marah banget waktu tahu kamu disakitin sama Fathan. Aku yang selama ini berusaha mati – matian buat jaga perasaan kamu biar selalu ceria, sementara Fathan dengan seenaknya buat hati kamu hancur.”
“ Claudy, ijinin aku terus ada buat ngejaga kamu. Aku mau terus kamu ada disisi aku bukan cuma sebagai sahabat. Dy, sekarang dengerin ini baik – baik. Kamu mau gak jadi pacarku?”, Rayen memegang kedua sisi bahuku sambil menatapku lekat – lekat.
Aku hanya diam membalas tatapan Rayen tak percaya. Rasanya aku sedang berada di surga bersama seorang malaikat tampan yang saat ini sedang memohon untuk menjadi pacarku.
“Dy, jangan diam. Aku butuh jawaban kamu.”, Kata – kata Rayen berhasil mengembalikanku ke dunia nyata.
Aku ingin segera mengangguk dan memberikan jawaban ‘iya’. Tapi tiba – tiba handphoneku berbunyi. Tanda sms masuk. Sambil menyimpan sejuta rasa gembiraku karena kata – kata Rayen barusan, aku mengambil handphoneku dari dalam tas. Aku takut mama yang mengirimkan pesan karena saat berangkat tadi mama sedang tidak di rumah, jadi aku belum sempat pamit. Ku buka sms itu, ternyata dari Kara, sahabat Rayen yang belakangan juga menjadi teman dekatku. Aku baca pesan itu dengan seksama.
“Dy, aku mau jujur nih sm kamu. Sebenarnya aku sdh lama suka sama Rayen. Tp skrg aku sdh gak kuat lg nahan perasaanku buat dia. Aku mau ngungkapin perasaanku ini secepatnya. Km bantu aku, ya?
Dadaku sesak. Aku sulit bernapas. Aku berharap semua ini hanya mimpi. Bukan bagian saat Rayen menyatakan perasaannya padaku, tapi bagian bahwa Kara, temanku, juga menyukai Rayen bahkan sejak lama. Tubuhku gemetar. Aku kembali menatap wajah Rayen yang tampak cemas menunggu reaksiku.
“Rayen...”, aku mulai berusaha menjawab dengan suara serak yang ditahan.
“Maaf, tapi selama ini aku hanya menganggap kamu sebagai sahabat, gak lebih dari itu. Aku sayang sama kamu, tapi rasa sayang aku ke kamu hanya sebatas sahabat.”
“maaf...”, kataku sekali lagi.
Aku melihat wajah Rayen berubah pucat. Ada kekecewaan di raut wajahnya. Aku tak bisa lagi membendung air mataku yang sejak tadi kutahan. Dengan sisa – sisa kekuatanku aku mendekati Rayen dan menghambur ke pelukannya. Aku menangis terisak dibahunya.
“Kamu gak usah nangis, Dy. Kamu juga ga perlu minta maaf karena kamu gak salah. Perasaan memang gak bisa dipaksakan. Udah ya, kita tetap bisa jadi sahabat. aku akan selalu ada buat kamu.” Kata – kata Rayen semakin membuat pedih hatiku.
Aku tetap memeluk Rayen erat. Hari semakin sore dan matahari bersiap untuk terbenam lagi. Kurasakan rintik – rintik hujan menusuk kulitku. Seakan langit mengerti perasaan sedihku saat ini dan ingin ikut menangis bersamaku. Harusnya hari ini menjadi hari bahagiaku karena bisa mendapatkan seseorang yang begitu aku sayang, Rayen. Tapi Kara juga temanku. Aku tak mungkin menyakiti hatinya dengan menerima Rayen. Tak adil rasanya jika aku harus bahagia sementara dia yang terluka. Biarkan saja senja kali ini yang menjadi saksi bahwa aku sebenarnya begitu mencintai Rayen. Biarkan senja musim hujan ini yang mengenang bahwa sepasang hati yang saling jatuh cinta tapi tidak bisa bersama pernah mengukir cerita di tempat ini.
Rayen melepaskan pelukanku. Kami saling menatap beberapa saat kemudian saling tersenyum. Dia mendekatkan wajahnya lalu mencium keningku penuh kasih. “Kita tetap sahabat, Dy. Aku akan tetap sayang kamu.”

Tamat..


2 komentar: