Minggu, 30 Desember 2012

Senja Musim Hujan di Malang (Part 2)


Hari demi hari berlalu, namun aku masih belum bisa melupakan pemilik tatapan teduh yang bayangannya sering muncul tiba – tiba di setiap sudut kamarku, Rayen. Aku merindukannya. Perasaan aneh itu masih belum lenyap, malah merasuk semakin dalam, dan jujur saja membuatku semakin bingung. Aku ingin Rayen terus berada didekatku, aku ingin menatapnya setiap hari, aku ingin mendengar suaranya sesering mungkin menggetarkan gendang telingaku. Sedikit demi sedikit, Rayen membuatku melupakan Fathan yang meninggalkan luka dan rasa sakit. Aku sangat merindukan Rayen. Aku juga merindukan berjalan – jalan dengannya bersama Keyla, motor kesayangannya. Mengingat dia memberi nama untuk motornya itu membuatku sedikit geli. Lagi – lagi senyumku mengembang karenanya.
Ruangan kelas masih sepi ketika aku sampai dikelas. Hanya ada beberapa bangku kuliah yang sudah terisi oleh beberapa anak yang nampak sibuk dengan laptopnya. Mungkin karena jadwal kuliah malam, sementara diluar sana gerimis dan udaranya dingin menusuk hingga ke tulang. Beginilah Kota Malang. Kadang udara dinginnya bisa saja mematikan. Ah, sepertinya aku sedikit berlebihan. Kemudian aku segera duduk dibangku paling depan, tempat favoritku saat jam kuliah berlangsung. Dengan begitu, aku bisa lebih fokus dan berkonsentrasi mendengarkan penjelasan dosen. harus kuakui aku bukan anak yang pandai, bukan berarti juga aku bodoh. Tapi setidaknya semangat belajarku cukup bagus. Aku melihat Erina dan Eoni juga duduk di bangku depan. Mereka berdua teman dekatku. kemana - mana kita selalu pergi jalan bertiga. banyak yang memberi kami julukan tiga malaikat, three angel, trio bidadari atau semacamnya. mengingatnya kadang membuatku senyum - senyum sendiri. Aku menyayangi kedua sahabatku ini. mereka hampir mnegerti setiap detail tentangku. Erina terbiasa tampil casual dan sporty, sedikit terkesan tomboy. tapi Erina   mempunyai sisi yang lebih lembut dibandingkan Eoni yang terkadang keras kepala. Eoni sendiri selalu tampil girly dan feminim. Dialah yang paling cerewet menasehatiku kalau sewaktu - waktu sifat kekanak- kanakanku muncul. 
Tiba – tiba aku mendengar suara Rayen yang sedang mengobrol dengan teman – temannya diluar pintu kelas. Sedikit ramai dan pembicaraan mereka terdengar tidak jelas. Tapi entah kenapa telingaku selalu peka ketika mendengar suara Rayen. Tak lama kemudian Rayen dan teman – temannya masuk ke dalam kelas memecah suasana yang tadinya sepi. Dia kelihatan sangat keren dengan kemeja warna abu – abu yang bagian lengannya dilipat hingga ke siku. Aku memerhatikannya sampai dia berhenti dihadapanku.
“hai, dy. Udah daritadi?”, sapanya saat dihadapanku.
Aku harus sedikit mendongak untuk melihat wajahnya. Oh Tuhan, dia tampan, aku memuji dalam hati. “Hai. Enggak kok. Aku juga baru datang.”
“Ya sudah, aku cari bangku dulu ya.” Aku hanya mengangguk sementara dia langsung menuju bangku paling belakang, bergabung bersama teman – temannya yang lain.
Aku menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan, berusaha mengatur degup jantungku yang sedari tadi berdebar tak karuan. Aneh. Setiap Rayen didekatku rasanya jantungku terhenti untuk beberapa saat, kemudian berdetak cepat tak terkendali. Rasanya dadaku sesak dan tenggorokanku tiba – tiba saja terasa kering. Dia selalu berhasil membuatku jadi salah tingkah setiap kali kami mengobrol berdua. Tentu saja aku berusaha mati – matian agar terlihat bersikap biasa saja didepannya. Apakah ini cinta? Apakah jantung yang tiba – tiba berdetak semakin cepat dan salah tingkah ketika berada didekatnya bisa diartikan sebagai cinta? Aku cepat – cepat membuang pertanyaan – pertanyaan yang berkecamuk dipikiranku. Rayen hanya menganggapku sebagai temannya, tidak lebih. Itulah yang membuatnya begitu perhatian padaku. Dia baik, jadi tidak heran dia akan selalu siap menghibur teman – temannya yang membutuhkan, termasuk aku. Aku tidak boleh membiarkan perasaan ini terlalu jauh lagi. Lamunanku dibuyarkan oleh kedatangan dosen yang sudah berdiri di depan kelas. Aku memusatkan perhatianku untuk kuliah malam ini dan membuang semua tentang Rayen dari otakku.
“Claudy !” Ku dengar seseorang memanggilku ditangga ketika jam kuliah usai. Itu suara Tio, teman baik Rayen.
“Eh, ada apa?”, tanyaku kepada Tio yang sudah berdiri disebelahku. Kami mengobrol sambil berjalan menuju parkiran.
“gak ada apa – apa kok. Kamu pulang sendirian?”, Tio balik bertanya.
“emm..iya seperti biasa.”, jawabku seadanya. Aku merasa ada yang berjalan dibelakang kami. Padahal tadinya sepi karena banyak teman – teman kami yang sudah pulang terlebih dahulu karena hari sudah mulai larut malam. Aku penasaran dan menoleh ke belakang. Aku kaget karena melihat Rayen berjalan dibelakang kami. Sesaat aku dan Rayen saling menatap sampai akhirnya aku kembali fokus ke depan. Sepertinya Tio belum menyadari kehadiran Rayen.
“Aku antar kamu pulang, ya?”, Tio menawarkan aku untuk pulang dengannya.
“Gak usah deh, makasih. Aku udah biasa pulang sendiri kok. Lagian rumahku kan dekat. Jadi ga masalah aku pulang sendiri.”
“Yakin kamu bisa pulang sendiri? Gak takut diculik orang kan?”, Tio bertanya sambil sedikit terkekeh.
“ah, kamu ada – ada aja deh. Mana ada orang yang berani menculik wonder woman seperti aku.” Sesaat kemudian Tio tertawa geli disebelahku.
“Oke kalau gitu aku pulang duluan. Hati – hati ya, Dy. Kalau ada apa – apa tinggal telepon aku aja.”, Kata Tio sebelum akhirnya kami berpisah di persimpangan area parkir.
Seharusnya aku menerima tawaran Tio untuk mengantarku pulang. Ini sudah larut malam dan bahaya bagi perempuan berjalan sendirian. Tapi menyadari kehadiran Rayen membuatku tak ingin menerima ajakan Tio. Aku tak ingin Rayen melihatku pulang bersama Tio. Aku juga tidak mengerti kenapa aku merasa harus menjaga perasaan Rayen dan tidak membuatnya berpikiran bahwa aku sedang dekat dengan laki – laki lain. Seharusnya aku sadar Rayen tidak akan pernah peduli dengan urusan pribadiku ini. Aku terus berjalan menuju pintu gerbang utama kampus sambil menikmati suasana malam hingga sebuah motor mengagetkanku karena berhenti tepat didepanku. Aku sudah bersiap – siap mengeluarkan jurus karateku kalau saja aku tidak menyadari pengendara motor itu adalah Rayen.
“Pulang bareng yuk !”, Ucap Rayen setelah membuka kaca helmnya.
Aku berpura – pura berpikir sejenak, “Boleh.”
“Tunggu, Dy.”, Rayen menahanku sebelum aku naik ke atas motornya. “Besok kamu ada acara?”
“Gak ada. Kenapa?”, Aku menjawab dengan cepat dan balik bertanya karena penasaran.
“Gimana kalau kita jalan? Kamu mau gak?” Rayen tanpa basa – basi mengutarakan maksudnya. Aku sedikit melotot karena kaget. Rayen mengajakku jalan berdua. Aku hanya mengangguk beberapa kali sebagai jawaban bahwa aku setuju jalan dengannya. Setelah merasa mendapatkan jawaban dariku, Rayen menyuruhku segera naik ke atas motornya.

“Kalau gitu aku jemput kamu jam empat sore ya.”, ia melanjutkan kata – katanya setelah motornya mulai memasuki jalan komplek rumahku.
“kok sore? Emang kita mau jalan kemana?”
“Ke Batu. Kalau kesana lebih enak waktu sore. Pemandangan di Batu keren banget loh.”
Aku tak lagi berkomentar hingga kami sampai didepan rumahku. Aku mengucapkan terima kasih kepada Rayen karena sudah mengantarku pulang. Dia hanya tersenyum kemudian meninggalkan pekarangan rumahku bersama Keyla, motornya. Aku merebahkan tubuhku diatas ranjang, sibuk memikirkan baju apa yang harus aku pakai esok hari. Aku harus tampil secantik mungkin tanpa terlihat berlebihan layaknya orang yang akan pergi kencan. Jangan sampai Rayen berpikir aku mengira dia mengajakku kencan, sementara dia hanya mengajakku jalan – jalan biasa untuk mengisi waktu weekend. Aku tak sanggup lagi berpikir tentang persiapan untuk jalan dengan Rayen besok. Aku tak henti – hentinya tersenyum membayangkan aku akan pergi bersama Rayen. "Semoga hari esok indah.", doaku seraya memejamkan mata.


Bersambung....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar