Hari
demi hari berlalu, namun aku masih belum bisa melupakan pemilik tatapan teduh yang
bayangannya sering muncul tiba – tiba di setiap sudut kamarku, Rayen. Aku
merindukannya. Perasaan aneh itu masih belum lenyap, malah merasuk semakin
dalam, dan jujur saja membuatku semakin bingung. Aku ingin Rayen terus berada
didekatku, aku ingin menatapnya setiap hari, aku ingin mendengar suaranya
sesering mungkin menggetarkan gendang telingaku. Sedikit demi sedikit, Rayen
membuatku melupakan Fathan yang meninggalkan luka dan rasa sakit. Aku sangat
merindukan Rayen. Aku juga merindukan berjalan – jalan dengannya bersama Keyla,
motor kesayangannya. Mengingat dia memberi nama untuk motornya itu membuatku
sedikit geli. Lagi – lagi senyumku mengembang karenanya.
Ruangan
kelas masih sepi ketika aku sampai dikelas. Hanya ada beberapa bangku kuliah
yang sudah terisi oleh beberapa anak yang nampak sibuk dengan laptopnya.
Mungkin karena jadwal kuliah malam, sementara diluar sana gerimis dan udaranya
dingin menusuk hingga ke tulang. Beginilah Kota Malang. Kadang udara dinginnya
bisa saja mematikan. Ah, sepertinya aku sedikit berlebihan. Kemudian aku segera
duduk dibangku paling depan, tempat favoritku saat jam kuliah berlangsung. Dengan
begitu, aku bisa lebih fokus dan berkonsentrasi mendengarkan penjelasan dosen. harus kuakui aku
bukan anak yang pandai, bukan berarti juga aku bodoh. Tapi setidaknya semangat
belajarku cukup bagus. Aku melihat Erina dan Eoni juga duduk di bangku depan. Mereka berdua teman dekatku. kemana - mana kita selalu pergi jalan bertiga. banyak yang memberi kami julukan tiga malaikat, three angel, trio bidadari atau semacamnya. mengingatnya kadang membuatku senyum - senyum sendiri. Aku menyayangi kedua sahabatku ini. mereka hampir mnegerti setiap detail tentangku. Erina terbiasa tampil casual dan sporty, sedikit terkesan tomboy. tapi Erina mempunyai sisi yang lebih lembut dibandingkan Eoni yang terkadang keras kepala. Eoni sendiri selalu tampil girly dan feminim. Dialah yang paling cerewet menasehatiku kalau sewaktu - waktu sifat kekanak- kanakanku muncul.
Tiba – tiba aku mendengar suara Rayen yang sedang mengobrol dengan teman – temannya diluar pintu kelas. Sedikit ramai dan pembicaraan mereka terdengar tidak jelas. Tapi entah kenapa telingaku selalu peka ketika mendengar suara Rayen. Tak lama kemudian Rayen dan teman – temannya masuk ke dalam kelas memecah suasana yang tadinya sepi. Dia kelihatan sangat keren dengan kemeja warna abu – abu yang bagian lengannya dilipat hingga ke siku. Aku memerhatikannya sampai dia berhenti dihadapanku.
Tiba – tiba aku mendengar suara Rayen yang sedang mengobrol dengan teman – temannya diluar pintu kelas. Sedikit ramai dan pembicaraan mereka terdengar tidak jelas. Tapi entah kenapa telingaku selalu peka ketika mendengar suara Rayen. Tak lama kemudian Rayen dan teman – temannya masuk ke dalam kelas memecah suasana yang tadinya sepi. Dia kelihatan sangat keren dengan kemeja warna abu – abu yang bagian lengannya dilipat hingga ke siku. Aku memerhatikannya sampai dia berhenti dihadapanku.
“hai,
dy. Udah daritadi?”, sapanya saat dihadapanku.
Aku
harus sedikit mendongak untuk melihat wajahnya. Oh Tuhan, dia tampan, aku
memuji dalam hati. “Hai. Enggak kok. Aku juga baru datang.”
“Ya
sudah, aku cari bangku dulu ya.” Aku hanya mengangguk sementara dia langsung
menuju bangku paling belakang, bergabung bersama teman – temannya yang lain.
Aku
menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan, berusaha mengatur degup
jantungku yang sedari tadi berdebar tak karuan. Aneh. Setiap Rayen didekatku
rasanya jantungku terhenti untuk beberapa saat, kemudian berdetak cepat tak
terkendali. Rasanya dadaku sesak dan tenggorokanku tiba – tiba saja terasa
kering. Dia selalu berhasil membuatku jadi salah tingkah setiap kali kami
mengobrol berdua. Tentu saja aku berusaha mati – matian agar terlihat bersikap
biasa saja didepannya. Apakah ini cinta? Apakah jantung yang tiba – tiba berdetak
semakin cepat dan salah tingkah ketika berada didekatnya bisa diartikan sebagai
cinta? Aku cepat – cepat membuang pertanyaan – pertanyaan yang berkecamuk
dipikiranku. Rayen hanya menganggapku sebagai temannya, tidak lebih. Itulah yang
membuatnya begitu perhatian padaku. Dia baik, jadi tidak heran dia akan selalu
siap menghibur teman – temannya yang membutuhkan, termasuk aku. Aku tidak boleh
membiarkan perasaan ini terlalu jauh lagi. Lamunanku dibuyarkan oleh kedatangan
dosen yang sudah berdiri di depan kelas. Aku memusatkan perhatianku untuk
kuliah malam ini dan membuang semua tentang Rayen dari otakku.
“Claudy
!” Ku dengar seseorang memanggilku ditangga ketika jam kuliah usai. Itu suara Tio,
teman baik Rayen.
“Eh,
ada apa?”, tanyaku kepada Tio yang sudah berdiri disebelahku. Kami mengobrol
sambil berjalan menuju parkiran.
“gak
ada apa – apa kok. Kamu pulang sendirian?”, Tio balik bertanya.
“emm..iya
seperti biasa.”, jawabku seadanya. Aku merasa ada yang berjalan dibelakang
kami. Padahal tadinya sepi karena banyak teman – teman kami yang sudah pulang
terlebih dahulu karena hari sudah mulai larut malam. Aku penasaran dan menoleh
ke belakang. Aku kaget karena melihat Rayen berjalan dibelakang kami. Sesaat aku
dan Rayen saling menatap sampai akhirnya aku kembali fokus ke depan. Sepertinya
Tio belum menyadari kehadiran Rayen.
“Aku
antar kamu pulang, ya?”, Tio menawarkan aku untuk pulang dengannya.
“Gak
usah deh, makasih. Aku udah biasa pulang sendiri kok. Lagian rumahku kan dekat.
Jadi ga masalah aku pulang sendiri.”
“Yakin
kamu bisa pulang sendiri? Gak takut diculik orang kan?”, Tio bertanya sambil
sedikit terkekeh.
“ah,
kamu ada – ada aja deh. Mana ada orang yang berani menculik wonder woman
seperti aku.” Sesaat kemudian Tio tertawa geli disebelahku.
“Oke
kalau gitu aku pulang duluan. Hati – hati ya, Dy. Kalau ada apa – apa tinggal
telepon aku aja.”, Kata Tio sebelum akhirnya kami berpisah di persimpangan area
parkir.
Seharusnya
aku menerima tawaran Tio untuk mengantarku pulang. Ini sudah larut malam dan
bahaya bagi perempuan berjalan sendirian. Tapi menyadari kehadiran Rayen
membuatku tak ingin menerima ajakan Tio. Aku tak ingin Rayen melihatku pulang
bersama Tio. Aku juga tidak mengerti kenapa aku merasa harus menjaga perasaan
Rayen dan tidak membuatnya berpikiran bahwa aku sedang dekat dengan laki – laki
lain. Seharusnya aku sadar Rayen tidak akan pernah peduli dengan urusan
pribadiku ini. Aku terus berjalan menuju pintu gerbang utama kampus sambil
menikmati suasana malam hingga sebuah motor mengagetkanku karena berhenti tepat
didepanku. Aku sudah bersiap – siap mengeluarkan jurus karateku kalau saja aku
tidak menyadari pengendara motor itu adalah Rayen.
“Pulang
bareng yuk !”, Ucap Rayen setelah membuka kaca helmnya.
Aku
berpura – pura berpikir sejenak, “Boleh.”
“Tunggu,
Dy.”, Rayen menahanku sebelum aku naik ke atas motornya. “Besok
kamu ada acara?”
“Gak
ada. Kenapa?”, Aku menjawab dengan cepat dan balik bertanya karena penasaran.
“Gimana
kalau kita jalan? Kamu mau gak?” Rayen tanpa basa – basi mengutarakan
maksudnya. Aku sedikit melotot karena kaget. Rayen mengajakku jalan berdua. Aku
hanya mengangguk beberapa kali sebagai jawaban bahwa aku setuju jalan
dengannya. Setelah merasa mendapatkan jawaban dariku, Rayen menyuruhku segera naik ke atas motornya.
“Kalau gitu aku jemput
kamu jam empat sore ya.”, ia melanjutkan kata – katanya setelah motornya mulai
memasuki jalan komplek rumahku.
“kok sore? Emang kita
mau jalan kemana?”
“Ke Batu. Kalau kesana
lebih enak waktu sore. Pemandangan di Batu keren banget loh.”
Aku
tak lagi berkomentar hingga kami sampai didepan rumahku. Aku mengucapkan terima
kasih kepada Rayen karena sudah mengantarku pulang. Dia hanya tersenyum
kemudian meninggalkan pekarangan rumahku bersama Keyla, motornya. Aku
merebahkan tubuhku diatas ranjang, sibuk memikirkan baju apa yang harus aku
pakai esok hari. Aku harus tampil secantik mungkin tanpa terlihat berlebihan layaknya
orang yang akan pergi kencan. Jangan sampai Rayen berpikir aku mengira dia
mengajakku kencan, sementara dia hanya mengajakku jalan – jalan biasa untuk
mengisi waktu weekend. Aku tak
sanggup lagi berpikir tentang persiapan untuk jalan dengan Rayen besok. Aku tak
henti – hentinya tersenyum membayangkan aku akan pergi bersama Rayen. "Semoga hari
esok indah.", doaku seraya memejamkan mata.
Bersambung....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar