Senin, 31 Desember 2012

Senja Musim Hujan di Malang ( END )


Aku membuka pintu rumah dan melihat Rayen sudah menunggu di depan pagar. Tepat jam empat sore. Tshirt dengan kerah berwarna cokelat muda dipadukan dengan celana jeans berwarna gelap nampak pas sekali ditubuhnya. Meskipun tidak setinggi atlet basket yang banyak digilai oleh remaja – remaja perempuan seusiaku, kuakui Rayen memang keren dengan tampangnya yang cool. Sedangkan aku mengenakan rok bermotif pelangi dengan kaos berwarna hitam.
“Hai, sudah lama nunggu?”, sapaku setelah menggembok pagar.
“belum lama kok. Lagian lebih baik aku yang nunggu daripada aku ngebiarin kamu yang nunggu aku. Ya, kan?” Aku hanya tersenyum dan langsung naik ke atas motornya.
Pemandangan yang benar – benar menakjubkan. Setelah melewati alun – alun Batu yang cukup ramai dikunjungi, kami mulai melewati jalan yang terus menanjak. Di kanan dan kiri kami hanya ada pepohonan dan hamparan pegunungan hijau. Aku membuka helmku dan menghirup napas dalam – dalam. Merentangkan kedua tanganku dan yang membuat semakin menakjubkan adalah aku bisa melihat Kota Malang dari atas sini. Pesona alam yang benar – benar mendamaikan hati. Aku cinta tempat ini, kota ini, dan..aku cinta seseorang yang membawaku kesini. Ya, aku jatuh cinta kepada Rayen sejak kami jalan berdua pertama kali. Aku tidak bisa terus mengelak dari perasaan yang semakin hari semakin menyesakkan. Aku jatuh cinta padanya. Tapi aku belum siap menerima kenyataan jika kenyataannya Rayen hanya menganggapku sebagai teman dekatnya, tidak lebih dari itu.
Selama kurang lebih setengah jam perjalanan, kami memasuki tempat wisata Selecta. Aku belum pernah kesini sebelumnya. Tapi aku sudah mendengar cerita tentang tempat ini sebelumnya. Teman – temanku selalu mendeskripsikan tempat ini sebagai tempat yang indah dan romantis. Setelah membeli tiket masuk dan memarkir motornya, Rayen membimbingku masuk ke tempat wisata itu.
“Kamu pernah kesini sebelumnya?”, tanya Rayen membuka percakapan.
“Belum. Tapi sudah banyak dengar cerita tentang tempat ini. Katanya sih romantis.”, aku menjawab sambil nyengir.
Aku melihat senyum Rayen mengembang. “Iya, ini memang tempat yang romantis. Coba deh kamu lihat itu.”, Rayen menunjuk suatu tempat yang penuh hamparan bunga warna – warni. Aku tercekat. Aku sangat suka bunga. Dan sekarang, lagi – lagi dia membawaku ke tempat yang bisa kusebut sebagai lautan bunga. Hatiku melumer, luluh bukan main. Rayen benar – benar menyita seluruh hatiku tanpa sisa dengan caranya.
“Gila ! tempat ini bagus banget !”, Aku setengah berteriak takjub.
“Nah, kalau mau yang lebih bagus ayo aku tunjukkan sama kamu.” Rayen menggapai telapak tanganku lalu menarikku untuk mengikutinya. Aku sempat kaget saat ia meraih tanganku. Kami saling bergenggaman tangan. Jantungku mulai berdebar – debar diluar kendali. Tubuhku sedikit gemetar karenanya. Lalu cepat – cepat aku mengontrol sikapku agar tidak terlihat grogi didekat Rayen.
Kami harus menaiki beberapa anak tangga yang terbuat dari bebatuan alam yang sengaja disusun agar pengunjung bisa naik ke jalan setapak yang lebih tinggi. Rayen membantuku naik ke atas, tetap menggenggam tanganku. Kami terus berjalan menyusuri sebuah lorong kecil yang diatas dan disampingnya ditumbuhi tanaman merambat menyelimuti lorong itu. Ada beberapa bunga yang tumbuh dan mekar diatasnya. Aku mengamati setiap bunga yang mekar, dan tetap merasakan hangat telapak tangan Rayen yang sedang menggandengku. Dengan sedikit keberanian aku menoleh ke arah Rayen yang berjalan disampingku. Sial, dia menatapku. Tatapannya yang teduh itu membuatku lemas. Lalu aku melirik ke tangan kami yang saling menggenggam. Tapi seakan bisa membaca pikiranku, Rayen bukannya melepaskan tanganku, tapi malah semakin menggenggamnya erat – erat. Aku melihatnya dengan tatapan tak percaya. Rayen tersenyum penuh arti kemudian mengalihkan pandangannya dariku. Begitu juga dengan aku yang langsung berpura – pura melihat – lihat yang ada disekitar kami.
Aku tak percaya dengan apa yang sedang kulihat. Begitu keluar dari lorong tadi, ada tempat yang mirip dengan balkon yang dipagari dengan kayu dari pohon jati sebagai pembatas, karena dibawahnya ada semacam tebing yang cukup curam. Dan dikedua sisinya ditumbuhi dengan pepohonan rindang. Sementara itu didepannya terpampang bagaikan sebuah lukisan alam yang indah, pegunungan hijau yang puncaknya terbalut kabut tipis, dan bisa kulihat sungai – sungai kecil yang mengalir. Di bawah sana ada hamparan sawah dan beberapa kebun bunga dan buah milik warga lokal. Kami berdua berdiri di balkon itu, berpegangan pada kayu pembatas sambil memandang jauh ke depan. Untuk beberapa saat tidak ada dari kami yang angkat bicara. Lalu aku punya inisiatif untuk membuka percakapan.
“Aku baru pertama kali datang ke tempat seindah ini. Makasih ya.”, Aku melihat Rayen sambil tersenyum.
“Iya, sama – sama. Dulu aku pernah janji sama diriku sendiri buat datang ke tempat ini sama seseorang.”, Kemudian Rayen terdiam. Aku menunggu Rayen melanjutkan kata – katanya. Tapi beberapa lama kemudian dia masih belum berkata apa – apa.
“Seseorang? Siapa?”, tanyaku lagi memecah keheningan diantara kami.
“Dulu waktu pertama kali masuk bangku kuliah, aku suka sama seorang cewek. Dia cantik, pintar, dan baik. Senyumnya juga manis, buat aku gak bisa berpaling kalau llihat dia lagi senyum. Aku kagum sama dia. Mungkin juga aku sudah jatuh cinta sama dia sejak pertama kali aku lihat dia. Tapi sayangnya waktu itu dia sudah punya pacar, Dy.” Rayen bercerita panjang lebar. Hatiku sedikit sakit mendengar ceritanya. Ternyata Rayen sudah punya seseorang di dalam hatinya. Jadi selama ini aku terlalu salah mengartikan sikap Rayen yang penuh perhatian padaku. Dia hanya ingin menjadikanku sebagai sahabatnya. Lalu aku memegang lengan Rayen, berusaha menguatkan dia meskipun hatiku sendiri sedang perih.
“Sabar ya, Ray.” Kataku dengan nada tulus.
“tapi sekarang aku udah nepatin janji aku kok, Dy. Aku udah bawa seseorang itu kesini. Sekarang dia udah ada disamping aku.”
“Apa? Maksud kamu?”, Aku masih bingung dengan kata – katanya. Aku mengangkat sebelah alisku untuk meminta penjelasan.
“Harusnya kamu sudah tahu kalau cewek yang selama ini aku sayang itu cuma kamu, Dy. Aku sayang sama kamu. Aku ga bisa lagi menyembunyikan perasaan ini dari kamu. Sudah terlalu lama dan aku cuma bisa nahan sakit waktu lihat kamu sama pacar kamu.”
“Aku marah banget waktu tahu kamu disakitin sama Fathan. Aku yang selama ini berusaha mati – matian buat jaga perasaan kamu biar selalu ceria, sementara Fathan dengan seenaknya buat hati kamu hancur.”
“ Claudy, ijinin aku terus ada buat ngejaga kamu. Aku mau terus kamu ada disisi aku bukan cuma sebagai sahabat. Dy, sekarang dengerin ini baik – baik. Kamu mau gak jadi pacarku?”, Rayen memegang kedua sisi bahuku sambil menatapku lekat – lekat.
Aku hanya diam membalas tatapan Rayen tak percaya. Rasanya aku sedang berada di surga bersama seorang malaikat tampan yang saat ini sedang memohon untuk menjadi pacarku.
“Dy, jangan diam. Aku butuh jawaban kamu.”, Kata – kata Rayen berhasil mengembalikanku ke dunia nyata.
Aku ingin segera mengangguk dan memberikan jawaban ‘iya’. Tapi tiba – tiba handphoneku berbunyi. Tanda sms masuk. Sambil menyimpan sejuta rasa gembiraku karena kata – kata Rayen barusan, aku mengambil handphoneku dari dalam tas. Aku takut mama yang mengirimkan pesan karena saat berangkat tadi mama sedang tidak di rumah, jadi aku belum sempat pamit. Ku buka sms itu, ternyata dari Kara, sahabat Rayen yang belakangan juga menjadi teman dekatku. Aku baca pesan itu dengan seksama.
“Dy, aku mau jujur nih sm kamu. Sebenarnya aku sdh lama suka sama Rayen. Tp skrg aku sdh gak kuat lg nahan perasaanku buat dia. Aku mau ngungkapin perasaanku ini secepatnya. Km bantu aku, ya?
Dadaku sesak. Aku sulit bernapas. Aku berharap semua ini hanya mimpi. Bukan bagian saat Rayen menyatakan perasaannya padaku, tapi bagian bahwa Kara, temanku, juga menyukai Rayen bahkan sejak lama. Tubuhku gemetar. Aku kembali menatap wajah Rayen yang tampak cemas menunggu reaksiku.
“Rayen...”, aku mulai berusaha menjawab dengan suara serak yang ditahan.
“Maaf, tapi selama ini aku hanya menganggap kamu sebagai sahabat, gak lebih dari itu. Aku sayang sama kamu, tapi rasa sayang aku ke kamu hanya sebatas sahabat.”
“maaf...”, kataku sekali lagi.
Aku melihat wajah Rayen berubah pucat. Ada kekecewaan di raut wajahnya. Aku tak bisa lagi membendung air mataku yang sejak tadi kutahan. Dengan sisa – sisa kekuatanku aku mendekati Rayen dan menghambur ke pelukannya. Aku menangis terisak dibahunya.
“Kamu gak usah nangis, Dy. Kamu juga ga perlu minta maaf karena kamu gak salah. Perasaan memang gak bisa dipaksakan. Udah ya, kita tetap bisa jadi sahabat. aku akan selalu ada buat kamu.” Kata – kata Rayen semakin membuat pedih hatiku.
Aku tetap memeluk Rayen erat. Hari semakin sore dan matahari bersiap untuk terbenam lagi. Kurasakan rintik – rintik hujan menusuk kulitku. Seakan langit mengerti perasaan sedihku saat ini dan ingin ikut menangis bersamaku. Harusnya hari ini menjadi hari bahagiaku karena bisa mendapatkan seseorang yang begitu aku sayang, Rayen. Tapi Kara juga temanku. Aku tak mungkin menyakiti hatinya dengan menerima Rayen. Tak adil rasanya jika aku harus bahagia sementara dia yang terluka. Biarkan saja senja kali ini yang menjadi saksi bahwa aku sebenarnya begitu mencintai Rayen. Biarkan senja musim hujan ini yang mengenang bahwa sepasang hati yang saling jatuh cinta tapi tidak bisa bersama pernah mengukir cerita di tempat ini.
Rayen melepaskan pelukanku. Kami saling menatap beberapa saat kemudian saling tersenyum. Dia mendekatkan wajahnya lalu mencium keningku penuh kasih. “Kita tetap sahabat, Dy. Aku akan tetap sayang kamu.”

Tamat..


Minggu, 30 Desember 2012

Senja Musim Hujan di Malang (Part 2)


Hari demi hari berlalu, namun aku masih belum bisa melupakan pemilik tatapan teduh yang bayangannya sering muncul tiba – tiba di setiap sudut kamarku, Rayen. Aku merindukannya. Perasaan aneh itu masih belum lenyap, malah merasuk semakin dalam, dan jujur saja membuatku semakin bingung. Aku ingin Rayen terus berada didekatku, aku ingin menatapnya setiap hari, aku ingin mendengar suaranya sesering mungkin menggetarkan gendang telingaku. Sedikit demi sedikit, Rayen membuatku melupakan Fathan yang meninggalkan luka dan rasa sakit. Aku sangat merindukan Rayen. Aku juga merindukan berjalan – jalan dengannya bersama Keyla, motor kesayangannya. Mengingat dia memberi nama untuk motornya itu membuatku sedikit geli. Lagi – lagi senyumku mengembang karenanya.
Ruangan kelas masih sepi ketika aku sampai dikelas. Hanya ada beberapa bangku kuliah yang sudah terisi oleh beberapa anak yang nampak sibuk dengan laptopnya. Mungkin karena jadwal kuliah malam, sementara diluar sana gerimis dan udaranya dingin menusuk hingga ke tulang. Beginilah Kota Malang. Kadang udara dinginnya bisa saja mematikan. Ah, sepertinya aku sedikit berlebihan. Kemudian aku segera duduk dibangku paling depan, tempat favoritku saat jam kuliah berlangsung. Dengan begitu, aku bisa lebih fokus dan berkonsentrasi mendengarkan penjelasan dosen. harus kuakui aku bukan anak yang pandai, bukan berarti juga aku bodoh. Tapi setidaknya semangat belajarku cukup bagus. Aku melihat Erina dan Eoni juga duduk di bangku depan. Mereka berdua teman dekatku. kemana - mana kita selalu pergi jalan bertiga. banyak yang memberi kami julukan tiga malaikat, three angel, trio bidadari atau semacamnya. mengingatnya kadang membuatku senyum - senyum sendiri. Aku menyayangi kedua sahabatku ini. mereka hampir mnegerti setiap detail tentangku. Erina terbiasa tampil casual dan sporty, sedikit terkesan tomboy. tapi Erina   mempunyai sisi yang lebih lembut dibandingkan Eoni yang terkadang keras kepala. Eoni sendiri selalu tampil girly dan feminim. Dialah yang paling cerewet menasehatiku kalau sewaktu - waktu sifat kekanak- kanakanku muncul. 
Tiba – tiba aku mendengar suara Rayen yang sedang mengobrol dengan teman – temannya diluar pintu kelas. Sedikit ramai dan pembicaraan mereka terdengar tidak jelas. Tapi entah kenapa telingaku selalu peka ketika mendengar suara Rayen. Tak lama kemudian Rayen dan teman – temannya masuk ke dalam kelas memecah suasana yang tadinya sepi. Dia kelihatan sangat keren dengan kemeja warna abu – abu yang bagian lengannya dilipat hingga ke siku. Aku memerhatikannya sampai dia berhenti dihadapanku.
“hai, dy. Udah daritadi?”, sapanya saat dihadapanku.
Aku harus sedikit mendongak untuk melihat wajahnya. Oh Tuhan, dia tampan, aku memuji dalam hati. “Hai. Enggak kok. Aku juga baru datang.”
“Ya sudah, aku cari bangku dulu ya.” Aku hanya mengangguk sementara dia langsung menuju bangku paling belakang, bergabung bersama teman – temannya yang lain.
Aku menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan, berusaha mengatur degup jantungku yang sedari tadi berdebar tak karuan. Aneh. Setiap Rayen didekatku rasanya jantungku terhenti untuk beberapa saat, kemudian berdetak cepat tak terkendali. Rasanya dadaku sesak dan tenggorokanku tiba – tiba saja terasa kering. Dia selalu berhasil membuatku jadi salah tingkah setiap kali kami mengobrol berdua. Tentu saja aku berusaha mati – matian agar terlihat bersikap biasa saja didepannya. Apakah ini cinta? Apakah jantung yang tiba – tiba berdetak semakin cepat dan salah tingkah ketika berada didekatnya bisa diartikan sebagai cinta? Aku cepat – cepat membuang pertanyaan – pertanyaan yang berkecamuk dipikiranku. Rayen hanya menganggapku sebagai temannya, tidak lebih. Itulah yang membuatnya begitu perhatian padaku. Dia baik, jadi tidak heran dia akan selalu siap menghibur teman – temannya yang membutuhkan, termasuk aku. Aku tidak boleh membiarkan perasaan ini terlalu jauh lagi. Lamunanku dibuyarkan oleh kedatangan dosen yang sudah berdiri di depan kelas. Aku memusatkan perhatianku untuk kuliah malam ini dan membuang semua tentang Rayen dari otakku.
“Claudy !” Ku dengar seseorang memanggilku ditangga ketika jam kuliah usai. Itu suara Tio, teman baik Rayen.
“Eh, ada apa?”, tanyaku kepada Tio yang sudah berdiri disebelahku. Kami mengobrol sambil berjalan menuju parkiran.
“gak ada apa – apa kok. Kamu pulang sendirian?”, Tio balik bertanya.
“emm..iya seperti biasa.”, jawabku seadanya. Aku merasa ada yang berjalan dibelakang kami. Padahal tadinya sepi karena banyak teman – teman kami yang sudah pulang terlebih dahulu karena hari sudah mulai larut malam. Aku penasaran dan menoleh ke belakang. Aku kaget karena melihat Rayen berjalan dibelakang kami. Sesaat aku dan Rayen saling menatap sampai akhirnya aku kembali fokus ke depan. Sepertinya Tio belum menyadari kehadiran Rayen.
“Aku antar kamu pulang, ya?”, Tio menawarkan aku untuk pulang dengannya.
“Gak usah deh, makasih. Aku udah biasa pulang sendiri kok. Lagian rumahku kan dekat. Jadi ga masalah aku pulang sendiri.”
“Yakin kamu bisa pulang sendiri? Gak takut diculik orang kan?”, Tio bertanya sambil sedikit terkekeh.
“ah, kamu ada – ada aja deh. Mana ada orang yang berani menculik wonder woman seperti aku.” Sesaat kemudian Tio tertawa geli disebelahku.
“Oke kalau gitu aku pulang duluan. Hati – hati ya, Dy. Kalau ada apa – apa tinggal telepon aku aja.”, Kata Tio sebelum akhirnya kami berpisah di persimpangan area parkir.
Seharusnya aku menerima tawaran Tio untuk mengantarku pulang. Ini sudah larut malam dan bahaya bagi perempuan berjalan sendirian. Tapi menyadari kehadiran Rayen membuatku tak ingin menerima ajakan Tio. Aku tak ingin Rayen melihatku pulang bersama Tio. Aku juga tidak mengerti kenapa aku merasa harus menjaga perasaan Rayen dan tidak membuatnya berpikiran bahwa aku sedang dekat dengan laki – laki lain. Seharusnya aku sadar Rayen tidak akan pernah peduli dengan urusan pribadiku ini. Aku terus berjalan menuju pintu gerbang utama kampus sambil menikmati suasana malam hingga sebuah motor mengagetkanku karena berhenti tepat didepanku. Aku sudah bersiap – siap mengeluarkan jurus karateku kalau saja aku tidak menyadari pengendara motor itu adalah Rayen.
“Pulang bareng yuk !”, Ucap Rayen setelah membuka kaca helmnya.
Aku berpura – pura berpikir sejenak, “Boleh.”
“Tunggu, Dy.”, Rayen menahanku sebelum aku naik ke atas motornya. “Besok kamu ada acara?”
“Gak ada. Kenapa?”, Aku menjawab dengan cepat dan balik bertanya karena penasaran.
“Gimana kalau kita jalan? Kamu mau gak?” Rayen tanpa basa – basi mengutarakan maksudnya. Aku sedikit melotot karena kaget. Rayen mengajakku jalan berdua. Aku hanya mengangguk beberapa kali sebagai jawaban bahwa aku setuju jalan dengannya. Setelah merasa mendapatkan jawaban dariku, Rayen menyuruhku segera naik ke atas motornya.

“Kalau gitu aku jemput kamu jam empat sore ya.”, ia melanjutkan kata – katanya setelah motornya mulai memasuki jalan komplek rumahku.
“kok sore? Emang kita mau jalan kemana?”
“Ke Batu. Kalau kesana lebih enak waktu sore. Pemandangan di Batu keren banget loh.”
Aku tak lagi berkomentar hingga kami sampai didepan rumahku. Aku mengucapkan terima kasih kepada Rayen karena sudah mengantarku pulang. Dia hanya tersenyum kemudian meninggalkan pekarangan rumahku bersama Keyla, motornya. Aku merebahkan tubuhku diatas ranjang, sibuk memikirkan baju apa yang harus aku pakai esok hari. Aku harus tampil secantik mungkin tanpa terlihat berlebihan layaknya orang yang akan pergi kencan. Jangan sampai Rayen berpikir aku mengira dia mengajakku kencan, sementara dia hanya mengajakku jalan – jalan biasa untuk mengisi waktu weekend. Aku tak sanggup lagi berpikir tentang persiapan untuk jalan dengan Rayen besok. Aku tak henti – hentinya tersenyum membayangkan aku akan pergi bersama Rayen. "Semoga hari esok indah.", doaku seraya memejamkan mata.


Bersambung....

Jumat, 21 Desember 2012

Mencintai Dalam Diam


Aku menyebutmu sebagai awan
Yang ingin kupeluk kala seputih kapas
Dan yang ingin kudekap saat mendung pekat

Aku menyebutmu sebagai hujan
yang datang bersama angin, yang pergi bersama dingin
meninggalkan buliran beku dan rindu dipermukaan daun kering

aku memanggilmu sebagai langit
yang kurindukan saat biru cerah, yang kuimpikan saat malam bertabur bintang nan indah
yang tak pernah runtuh, yang tak pernah goncang
kamu adalah langit, yang membuat semestaku tercipta gemilang

aku memanggilmu sebagai kamu
yang menempati ruang dalam labirin – labirin sempit hatiku
yang membiarkan kerinduan hadir dalam senyap
yang mengabaikan cinta terpendam dalam sepi

aku menyebutnya sebagai kamu....
yang mengandaskan harapan bagai kapal karam
yang membuat setiap hari menjadi bisu, mencintai dalam diam...


Minggu, 16 Desember 2012

Senja Musim Hujan di Malang


“Aku sudah lelah. Berulang kali dia seperti itu ! Selingkuh, lagi dan lagi ! Putus dengannya memang jalan terbaik. Fathan gak akan pernah berubah.”, Aku berbicara dengan nada tinggi.
Dia diam tak bersuara. Aku bisa membaca pikirannya hanya dengan menatap matanya. Dia bingung, tak tahu harus memberi tanggapan apa.
Aku berkata lagi, “Aku cuma bisa sabar menghadapi dia. Gak ada lagi yang bisa aku lakukan selain bersabar, Rayen.”
“Claudy...”, Rayen menyebut namaku.
Aku menoleh ke arahnya yang sedang duduk tepat disampingku, “Ya?”
“kamu bisa ikut aku sebentar? Mungkin jalan – jalan bisa sedikit mengurangi kesedihanmu.”
“Gimana sama Kara? Aku takut dia marah kalau tahu kita jalan berdua.”
Rayen menatapku dengan senyum simpul, “Dia sahabat yang baik. Dia gak mungkin marah.”
Sahabat. Dia menambahkan kata sahabat dalam jawabannya. Sepertinya dia bisa menangkap isi otakku. Dia tahu kalau aku mengganggap ia dan Kara lebih dari sekadar sahabat. Tapi kata – katanya membuatku begitu yakin bahwa tidak ada hubungan yang dalam diantara mereka. Lagi pula aku memang butuh waktu jalan – jalan.
“Baiklah. Kamu mau mengajakku kemana?”
“Ikut saja. Nanti kamu akan tahu.”, lagi – lagi dengan senyumnya yang simpul dan dingin.
Ini pertama kalinya Rayen memboncengku dengan motornya. Diam – diam ada perasaan aneh yang merasuk lewat celah – celah hatiku. Entahlah, mungkin hanya sebatas rasa nyaman karena ada seorang teman yang bisa mengerti rasa sakitku. Rasa sakit  karena telah dikhianati berkali - kali oleh seseorang yang kupikir akan menjadi takdirku, Fathan.
“Claudy, kamu tahu nama motorku?”, Rayen bertanya sambil tetap fokus mengendarai motornya.
“Memangnya motormu punya nama?”
“Iya, namanya keyla.”
Aku tersenyum mendengar pengakuannya. Aku mulai penasaran apakah ia juga memberi nama untuk setiap benda lain yang dimilikinya. Tapi aku tak tertarik lagi melanjutkan percakapan. Sepanjang perjalanan aku hanya melihat jalanan yang nampak ramai oleh mahasiswa dan pelajar SMA yang baru pulang sekolah. Kota Malang, memang benar – benar Kota Pelajar. Kota yang akan menjadi saksi impianku dirintis, tempat yang akan menjadi pengukir sejarah dimana mimpi – mimpi masa depan akan aku lukis. Angin sejuk semakin membawa pikiranku terbang. Bangunan – bangunan yang kokoh terlihat berdiri tangguh, membuat iri hatiku yang rapuh. Tiba – tiba kurasakan motor Rayen berhenti tepat di depan sebuah Sekolah Menengah Atas di tengah kota. Awalnya aku bingung untuk apa dia membawaku kesini. Ditengah kebingunganku, dia menarikku menyeberang jalan.
Dan kami sampai di sebuah tempat. Aku melihat Patung Tugu di tengah kolam yang penuh dengan bunga teratai. Aku melihat dengan takjub bunga – bunga berwarna – warni yang berputar menghiasi sekeliling tempat ini. Taman Tugu, tepat di depan Balai Kota Malang, memikatku sejak awal aku menginjakkan kakiku disini. Tuhan, ini benar – benar indah. Perpaduan yang pas dengan angin sore yang membawa bau tanah basah usai hujan, semakin mempesona bersama suara gemuruh kendaraan yang berlalu - lalang.
“Kita duduk disini saja.”, Rayen menunjuk sebuah kursi panjang dipinggiran kolam.
“Tempat ini indah,ya? Kamu sering ke tempat ini?”
“Lumayan. Bisa jadi pengobat suntuk dan galau.”, katanya sambil tertawa datar.
Dia melanjutkan kata – katanya, “kamu lihat bunga teratai itu? Awalnya mereka hanya bunga kuncup yang warnanya nampak gelap dari luar. Tapi lama – kelamaan mereka akan mekar dan mulai menampakkan keindahannya bersama warna yang cerah. Kamu harus belajar dari mereka. Jangan terus berdiam diri dalam suramnya hatimu, tapi bangkitlah. tunjukkan indahmu, jangan kalah sama bunga – bunga itu.”
Aku tersentak. Berusaha mencerna setiap kata – katanya yang mendamaikan. Aku hanya bisa menatapnya. Menatap tajam ke arah matanya. Ada ketulusan dan kelembutan di matanya yang dingin. Dan entah kenapa aku tak bisa berlama – lama menyelami pandangannya yang sarat makna. Aku kembali mengalihkan pandanganku pada bunga – bunga disekeliling taman ini. Sayang sekali, bunga teratai yang bertabur di permukaan kolam itu sedang kuncup. Andai saja aku datang lebih sore, mungkin aku bisa melihat keindahan teratai yang sedang mekar. Kali ini aku kurang beruntung. Tapi aku berniat datang lagi ke taman ini lain waktu.
Lalu aku berdiri sambil menghirup udara dalam – dalam, memejamkan mata kemudian membukanya perlahan. Aku bisa merasakan ada senyum yang mengembang di bibirku. Aku juga bisa melihat lewat sudut mataku, Rayen diam – diam sedang memerhatikanku. Tiba – tiba saja perasaan aneh itu muncul lagi. Aku ingin kembali ke tempat ini lagi bersama Rayen. Ya, hanya bersamanya. Dan aku masih tak bisa menemukan alasan yang tepat mengapa aku ingin datang lagi ke taman tugu ini bersamanya.


Bersambung...