Senja tak mengizinkanku terlelap
lagi. Aku dibiarkan sendiri bersama bayanganmu yang masih membekas dan terbawa
ke dunia nyata setelah aku bermimpi, lagi – lagi tentangmu. Masih tentang kamu.
Bagaimana mungkin kamu selalu datang membajak duniaku seperti perompak yang
ingin berkuasa dan bertahta disana? Tak bisakah kamu hanya pergi dan
membiarkanku hidup dengan tenang tanpa rasa ingin memiliki dan rindu yang
terlalu dalam? Kamu keterlaluan, sayang. Kamu sama sekali tak memberi celah
agar aku dapat menemukan cara untuk melupakanmu. Kamu egois, sayang. Kamu
menempati seluruh ruang yang kupunya. Bahkan saat aku menutup dan membuka mata,
hanya ada kamu yang terlihat disana.
Harusnya aku tak membiarkan semua
ini berlarut – larut. Tapi nyatanya aku sendiri sedang menghalangi takdir yang
mencoba menjauhkanmu dari pelukan lenganku. Aku sedang menentang takdir untuk
dapat terus menggenggammu. Salahkah? Salahkah aku? Rasanya tak dapat lagi
kuhitung berapa kali aku berkata akan melupakanmu, tapi aku dengan gontai
membiarkan impuls neuron di otakku bekerja hanya untuk mengingat dan
memikirkanmu. Aku selalu mencoba dan memaksa diri mengontrol perasaanku, tapi
nadi arteri karotisku selalu menegang saat aku menatap dalam matamu. Jantungku
memompa aliran darah lebih cepat saat aku mendengar namamu. Apa itu salah?
Siapa kamu? kamu dengan berani menguasai
seluruh hati dan pikiranku tanpa sisa. Siapa kamu? Kamu dengan lancang datang
merasuk sebagai bayangan, lalu enggan pergi dan memaksaku hidup dalam kenangan. Bahkan Tuhan
sudah membuat empat lobus hati dalam tubuhku, tapi kamu terlalu serakah untuk
menjadikan semuanya sebagai tempat tinggalmu. Lalu, siapa kamu?
Kumohon
pergilah, Tuan. Pergi dari hati dan otakku ! biarkan aku memberikan hati ini
kepada seseorang yang rela membagi seluruh kasihnya untukku. Tak peduli
seberapa dalam aku mencintaimu, tak peduli seberapa lekat kamu tersemat
dihatiku, kenyataannya kamu sudah tak benar – benar menatapku. Dalam nyata,
kamu bukan lagi milikku. Dan pertanyaan, “Siapa kamu?” Kurasa sekarang aku tahu
jawabannya. Kamu adalah kenangan. Kenangan yang masih tersimpan amat dalam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar