Sabtu, 08 Juni 2013

Malam Terakhir di Bulan Mei


Sekali lagi aku bercerita tentangnya lewat sajakku
Dia yang kurajakan dalam tahta terbaik di hatiku
Dia,
yang rajin kukisahkan bersama senyum dan air mata
yang namanya selalu kuseret disepertiga malam  dalam doa

Dingin,
butiran embun malam bergerilya bersama angin
Entah kenapa ada hangat selama aku bisa didekatmu
Menikmati bias senyum simpul yang sanggup buat aku merindu
Seperti biasa, getaran aneh dan debar jantung yang selalu kusembunyikan
Menutupi perasaan yang sejak lama masih saja sama
Malam terakhir di bulan Mei..
satu yang terbaik dari sekian banyak malam yang pernah kulewatkan denganmu
Malam yang mencibir kepengecutan dan kebodohanku
Malam..
dan aku masih mencintaimu dalam diam..

Malam ini ada yang berpura – pura lapar meski kenyang,
Ada yang menahan kantuk meski sudah sangat lelah
Itu aku, selalu saja aku, dan masih tetap aku
Kamu tahu kenapa?
Karena aku ingin makan bersamamu,
Aku ingin lebih lama berada disampingmu
Lalu mendengar bagaimana kamu menceritakan hari – harimu
Mendengar bagaimana kamu bercerita tentang duniamu

Bodoh?
tapi hanya ini yang mampu kulakukan
Menciptakan rangkaian kebodohan hanya karenamu
Seseorang yang rela menjadi idiot demi Mahakarya Tuhan sepertimu
Terima kasih Mei..
Ini malam yang indah di penghujung bulanmu..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar